Lokasiberita.com, Jakarta – Okunpansi Bus Transjabodetabek Premium yang disediakan dalam rangkaian penerapan ganjil genap di Tol Bekasi masih rendah. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menagatakan, hanya sedikit masyarakat yang beralih ke transportasi massal ini sejak sejak kebijakan ganjil genap diterapkan.

“Dari okupansi yang disediakan, jumlahnya hanya 30 persen. Jadi useless (percuma),” kata Budi usai melakukan rapat evaluasi di Posko Green Line di Mega City Bekasi, Bekasi Barat, Minggu (18/3/2018).

Padahal, ia berharap semua pengedara mobil yang terkena dampak ganjil genap beralih ke penggunaan Bus Transjabodetabek Premium. Untuk meningkatkan penggunaannya, pemerintah akan memotong tarif bus.

Bila sebelumnya tiket dipatok Rp 20 ribu, ke depan akan dipotong setengahnya menjadi Rp 10 ribu. Menurut Budi, langkah itu diputuskan setelah berdiskusi dengan operator.

Selain itu, tarif parkir kendaraan yang diditpkan pengemudi juga akan diturunkan. “Kendaraan yang parkir di mal ini (Mega City Bekasi) atau tempat yang kita sediakan. Dari Rp 10 ribu menjadi Rp 5 ribu,” tukas Budi.

Dia berharap, startegi ini bisa meningkatkan jumlah penumpang bus. Dengan begitu, pengendara yang terimbas aturan ganjil genap beralih ke tranportasi massal, bukan mencari jalur alternatif nontol.

“Dan dari kota ke kota lebih baik menggunakan bus daripada kendaraan pribadi. Dan jadi pola baru,” pungkas Budi.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, mengatakan, akan tetap melanjutkan paket kebijakan yang diterapkan di ruas jalan Tol Jakarta-Cikampek. Salah satunya, soal ganjil genap di pintu Tol Bekasi.

“Jadi kita akan lanjutkan,” ucap Budi usai melakukan rapat evaluasi di Posko Green Line di Mega City Bekasi, Bekasi Barat, Minggu (18/3/2018).

Dia menuturkan, keputusan ini diambil, lantaran penerapan ganjil genap menunjukan hasil positif selama sepekan diberlakukan.

“Lalu lintas turun 36 persen. Satu jumlah yang sangat mengembirakan. Dan dengan itu membuat kecepatan dari kendaraan itu naik 22 persen. Jadi ini korelasi langsung. Menurun dan lebih cepat,” ungkap Budi.

Selain itu, sambung dia, masyarakat pun mengubah waktu keberangkatannya menuju Jakarta. Artinya ada yang lebih pagi berangkatnya sebelum jam 06.00 WIB-09.00 WIB.

“Dan ada tiga pola yang dilakukan para penumpang. Secara cerdik para penumpang atau pemilik mobil berangkat lebih pagi. Jadi lebih pagi itu lumayan, kurang lebih 6 persen sampai 11 persen. Sedangkan yang lain adalah mengubah rute. Semula lewat Bekasi Barat dan Timur, mereka pindah ke Tambun, pindah ke bebapa tempat lain,” jelas Budi.