LokasiBerita, Jakarta – Perusahaan jejaring profesional, LinkedIn, yang kini berada di bawah Microsoft baru saja mengumumkan akuisisinya terhadap perusahaan startup Glint pada Senin (8/10/2018) kemarin.

Glint merupakan platform yang menyediakan layanan manajemen karyawan berbagai bisnis dan organisasi lainnya. Akuisisi ini diumumkan oleh LinkedIn dan Glint dalam unggahan blog mereka.

Sebagai informasi, Glint menerima pendanaan sebesar USD 80 juta atau Rp 1,21 triliun dan kini bernilai total USD 220 juta atau Rp 3,35 triliun menurut PitchBook Data.

Saat ini, Glint memiliki lebih dari 200 pekerja. Beberapa perusahaan yang menjadi klien Glint di antaranya Dish Network dan United Airlines.

Walaupun jumlahnya belum diungkap kepada publik, sumber CNBC mengungkap, LinkedIn mengeluarkan lebih dari USD 400 juta atau Rp 6 triliun untuk membeli Glint. Akuisisi ini merupakan pembelian termahal LinkedIn sebagai bagian dari Microsoft.

Dilansir dari TechCrunch, Kamis (11/10/2018), VP Talent Solutions LinkedIn, Daniel Shapero mengatakan, kecuali bagian HR (human resource), keuangan, keamanan informasi, dan personil hukum, tim yang berada di Glint akan tetap bekerja di bawah CEO dan pendirinya Jim Barnett.

LinkedIn juga mengungkap, Glint tidak akan menutup layanannya pasca berintegrasi dengan LinkedIn.

Salah satu fokus utama dari LinkedIn dalam beberapa tahun terakhir adalah untuk meningkatkan jumlah engagement yang berpengaruh terhadap pendapatan.

Saat ini, sejumlah produk LinkedIn yang berkontribusi terhadap pendapatannya antara lain layanan premium membership, rekrutmen (Talent Solutions), dan edukasi melalui Lynda.com.

Fitur Manajemen Karyawan

Glint adalah langkah lanjutan yang diambil LinkedIn untuk memperluas strategi dalam membangun lebih banyak layanan penggunanya, termasuk penambahan fitur, seperti LinkedIn Learning dan Talent Insights.

Glint sendiri memiliki beberapa produk seputar kehidupan karyawan di antaranya Empoyee Engagement (keterlibatan pekerja), Employee Lifecycle (siklus hidup pekerja), Manager Effectiveness (efektivitas manajer), dan Team Effectiveness (efektivitas tim).

Glint menggunakan survei yang diisi para karyawan dan kemudian dianalisis pembelajaran mesin (machine learning), pemrosesan bahasa alami (natural language processing), dan analisis prediktif (predictive analytics).

Melalui analisis ini, Glint bisa mengukur perasaan dan kepuasan karyawan akan hal-hal terkait manajemen, kompensasi, dan budaya di tempat kerja, serta membuat rekomendasi bagaimana perusahaan bisa meningkatkan nilai mereka.

Saat ini, banyak bisnis yang menggunakan LinkedIn dalam proses perekrutan.

Dengan akuisisi ini, bisnis tersebut akan bisa menggunakan layanan jejaring profesional berkaitan dengan pekerja mereka untuk meningkatkan efektivitas perusahaan juga menjamin pengembangan karyawannya.

“Kami percaya Glint telah menemukan cara terbaik mengelola SDM modern yang harus dilakukan tiap perusahaan: mengumpulkan karyawan secara reguler untuk memberi masukan terkait pekerjaan mereka, budaya kerja, gaya kepemimpinan, serta membantu atasan untuk mengubah masukan tersebut menjadi tindakan,” tulis Shapero.

Bola | Hasil Skor | Bursa Taruhan | Prediksi Togel Online | Agen Togel Online | Judi Online | Poker Online | Tangkas | Sabung Ayam | CERITA SEX  | CERITA18+ | video18+ | Dokter18+ | GAYA SEX18+ | MAJALAH 18+ | MODEL18+ | FILM18+ | BERITA18+ | FILM SEMI | VIDIO BOKEP |
VIDIO SEX | CERITA DEWASA 18+ | VIDEO HOT