LokasiBerita.com Yangon – Para pengungsi Rohingya di Bangladesh direncanakan untuk dipulangkan ke Myanmar. Kelompok-kelompok kemanusiaan menganggap rencana ini terlalu dini dan para pengungsi ketakutan untuk meninggalkan Bangladesh.

Lebih dari 720 ribu warga Rohinga lari dari negara bagian Rakhine, Myanmar utara ke Bangladesh setelah operasi militer pada Agustus 2017 lalu. Para penyintas menyebut operasi militer Myanmar itu diwarnai pemerkosaan dan pembunuhan massal.

Pemerintah Bangladesh dan Myanmar telah menandatangani kesepakatan untuk mengizinkan warga Rohingya kembali ke Myanmar. Namun banyak warga Rohingya yang takut untuk kembali tanpa jaminan kewarganegaraan, kebebasan bergerak dan keselamatan.

Namun pemerintah kedua negara, beberapa pekan terakhir menyatakan akan melakukan pemulangan berskala besar pada pertengahan November ini. Kelompok-kelompok kemanusiaan pun mengecam rencana ini karena menganggap situasi di Rakhine belum memadai.

“Mereka lari ke Bangladesh untuk mencari keselamatan dan mereka sangat bersyukur kepada pemerintah Bangladesh karena memberikan mereka tempat perlindungan,” demikian statemen bersama dari 42 kelompok kemanusiaan dan kemasyarakatan yang menyebut upaya pemulangan itu “berbahaya.”

“Mereka takut akan apa yang akan terjadi pada mereka jika mereka kembali ke Myanmar sekarang, dan tertekan oleh kurangnya informasi yang mereka terima,” demikian disampaikan seperti dilansir kantor berita AFP, Jumat (9/11/2018).

Oxfam, World Vision dan Save the Children termasuk di antara kelompok-kelompok yang bekerja di Myanmar dan Bangladesh, yang ikut menandatangani statemen bersama tersebut.

Sebelumnya, tim pencari fakta PBB telah menyerukan agar para pemimpin militer Myanmar diselidiki atas tuduhan genosida terhadap warga Rohingya. Namun pemerintah Myanmar menolak seruan itu dan menegaskan bahwa militer hanya memberantas para ekstremis Rohingya yang telah menyerang pos-pos polisi Myanmar.