LokasiBerita Jakarta – Sindikat perdagangan tenaga kerja Indonesia (TKI) ke Timur Tengah meraup untung ratusan juta rupiah dari tindak kejahatannya. Polisi menyebut, dengan memberangkatkan satu orang TKI secara ilegal, pelaku mengantongi Rp 3 juta.

“Tersangka Mutiara bin Muhammad Abas mendapat Rp 900 juta dan Farhan bin Abuyarman memperoleh Rp 600 juta,” kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (9/4/2019).

Mutiara dan Farhan adalah tersangka sindikat TKI ilegal Indonesia-Maroko. Mereka merekrut korbannya dari Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Sementara itu, untuk sindikat Indonesia-Turki, yang sudah memberangkatkan 220 TKI ilegal, masing-masing tersangka dalam sindikat ini meraup untung berbeda.

“Tersangka Erna Rachmawati keuntungannya dari 2018 sampai 2019 Rp 160 juta. Dia memberangkatkan 20 orang. Ini beda-beda harga per kepalanya, berarti lebih mahal Rp 8 juta. Kalau tersangka Saleha dari 2014 sampai 2019 memberangkatkan 200 orang, keuntungannya Rp 600 juta,” jelas Dedi.

Kemudian, pada sindikat Indonesia-Suriah, tersangka, yang hanya satu orang, yaitu Muhammad Abdul Halim, mengantongi keuntungan Rp 900 juta setelah 5 tahun berbisnis TKI ilegal.

“Dia sudah berangkatkan 300 orang dengan mengatakan kepada korbannya mau dikirim ke Arab Saudi. Tahu-tahunya ke negara yang sedang berkonflik,” terang Dedi.

Terakhir, tiga tersangka sindikat TKI ilegal Indonesia-Arab Saudi, yaitu warga Etiopia, Faisal Hussein Saeed, dan Abdalla Ibrahim, serta perempuan Indonesia bernama Neneng Susilawati mendapat keuntungan Rp 600 juta setelah memberangkatkan 200 orang selama dua tahun belakangan.

“Ini mereka yang menampung korbannya di salah satu apartemen di Jakarta Selatan,” tutup Dedi.

Seperti diberitakan sebelumnya, Bareskrim Polri mengungkap jaringan TPPO TKI ilegal ke Timur Tengah, yang korbannya mencapai 1.200 orang. Mereka menjadi pekerja migran tanpa melalui prosedur resmi yang diatur pemerintah.

Kedelapan tersangka dijerat Pasal 4 dan Pasal 10 Undang-Undang Nomor 21/2007 tentang Pemberantasan TPPO dan/atau Pasal 81 dan Pasal 86 huruf b UU Nomor 18/2017 tentang Perlindungan Pekerja Migran Indonesia dan atau Pasal 102 ayat 1 huruf B UU Nomor 39/2004 tentang Penempatan dan Perlindungan TKI di Luar Negeri.

“Ancaman hukuman maksimalnya 15 tahun penjara,” tutup Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Brigjen Herry Rudolf Nahak.

Bola | Hasil Skor | Bursa Taruhan | Prediksi Togel Online | Agen Togel Online | Judi Online | Poker Online | Tangkas | Sabung Ayam | CERITA SEX  | CERITA18+ | video18+ | Dokter18+ | GAYA SEX18+ | MAJALAH 18+ | MODEL18+ | FILM18+ | BERITA18+ | FILM SEMI | VIDIO BOKEP |
VIDIO SEX | CERITA DEWASA 18+ | VIDEO HOT